Kendaraan Udara Listrik Lepas Landas dan Mendarat Vertikal (eVTOL), atau dikenal sebagai mobil terbang, tidak lagi fiksi ilmiah di Asia. Korea Selatan dan Singapura muncul sebagai pelopor regional dalam mengembangkan dan mengintegrasikan teknologi ini, melihatnya sebagai solusi masa depan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas perkotaan yang kronis.
Singapura, dengan wilayah yang padat dan komitmen pada teknologi pintar, memposisikan diri sebagai pusat pengujian dan regulasi eVTOL. Fokus mereka adalah membangun infrastruktur vertiport (tempat lepas landas/mendarat) yang cerdas dan menyusun kerangka hukum untuk memastikan keselamatan operasional di wilayah udara perkotaan yang sibuk.
Korea Selatan, yang didukung oleh konglomerat teknologi besar (Chaebol), lebih berfokus pada pengembangan teknologi dan manufaktur eVTOL domestik. Mereka berencana untuk meluncurkan layanan taksi udara komersial di area metropolitan Seoul, mengatasi kemacetan dan mengurangi waktu tempuh secara drastis.
Tantangan terbesar bagi kedua negara adalah penerimaan publik terhadap kebisingan dan kekhawatiran keamanan. Selain itu, biaya operasional awal eVTOL akan sangat tinggi. Keberhasilan eVTOL akan sangat bergantung pada kemampuan mereka untuk membuktikan keselamatan dan menurunkan biaya hingga menjadi alternatif transportasi umum yang terjangkau.Intisari: Korea Selatan dan Singapura memimpin pengembangan eVTOL (mobil terbang) sebagai solusi mengatasi kemacetan perkotaan; Singapura fokus pada regulasi dan infrastruktur vertiport, sedangkan Korea Selatan pada pengembangan teknologi dan manufaktur untuk layanan taksi udara komersial.

