Kehadiran platform ride-hailing seperti Gojek dan Grab lebih dari sekadar menyediakan ojek atau taksi online. Mereka telah secara fundamental mengubah cara jutaan orang Indonesia bergerak, bekerja, dan berinteraksi dengan kota mereka. Ini adalah revolusi mobilitas terbesar dalam dua dekade terakhir.
Dampak paling signifikan adalah pada konektivitas first-mile/last-mile. Ride-hailing menjadi “penyambung” yang vital antara rumah tinggal dan simpul transportasi publik, seperti stasiun KRL atau halte TransJakarta. Hal ini membuat penggunaan transportasi massal menjadi lebih nyaman dan layak bagi lebih banyak orang.
Namun, di sisi lain, kemudahan dan keterjangkauan ride-hailing (terutama mobil) juga dituding berkontribusi pada peningkatan kemacetan. Banyak konsumen yang mungkin beralih dari transportasi publik ke ride-hailing pribadi, menambah volume kendaraan di jalan-jalan yang sudah padat.
Dari sisi tata ruang, ride-hailing dan layanan pesan-antar makanan (food delivery) telah mengubah wajah area komersial. Kita melihat fenomena ghost kitchen (dapur tanpa restoran fisik) dan penurunan lalu lintas pejalan kaki di beberapa area ritel. Pola pergerakan manusia kini tidak lagi terpusat di satu titik, melainkan lebih terdistribusi.
Ke depan, data mobilitas masif yang dimiliki platform ride-hailing adalah harta karun bagi perencana kota. Jika pemerintah dan platform dapat berkolaborasi, data ini dapat digunakan untuk merancang rute transportasi publik yang lebih efisien, mengelola lalu lintas secara real-time, dan membangun kota yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

